music

Rabu, 26 Desember 2012

Resensi Novel Azab Dan Sengsara


SINOPSIS

AZAB DAN SENGSARA
(Merari Siregar,1920)

Karena pergaulan mereka sejak kecil dan hubungan saudara sepupu, terjadilah hubungan cinta antara Mariamin dan Aminu’ddin. Ibu Mariamin menyetujui hubungan itu karena Aminu’ddin adalah seorang anak  yang baik budinya, lagi pula Nuria ingin agar puterinya dapat hidup berbahagia dan tidak selalu menderita oleh kemiskinan mereka.
Orang tua Aminu’ddin adalah seorang kepala kampong, bangsawan kaya dan disegani oleh bawahannya karena sifat-sifatnya yang mulia serta kerajinan kerjanya. Ayah Aminu’ddin bernama Baginda Diatas.Sifatnya munurun kepada anaknya. Sebaliknya, keluarga Mariamin adalah keluarga miskin yang disebabkan oleh tingkah laku ayahnya almarhum yang suka berjudi,pemarah,mau menang sendiri serta suka berbicara kasar. Karena sifat ayah Mariamin yang suka berperkara degan orang lain,akhirnya keluarga Mariamin jatuh miskin. Hingga akhir hayatnya, Tohir(Sutan Baringin) engalami nasib sengsara bersama istrinya, Nuria. Istri Baginda Diatas adalah adik kandung Sutan Baringin.
Hubungan cinta antara Mariamin  dan Aminu’ddin semakin bersemi ketika suatu hari Mariamin tergelincir dari sebuah jemabatan bambu. Dengan sigap, Aminu’ddin terjun ke sungai untuk menyelamatkan jiwa Mariamin. Mariamin terselamatkan, dan merasa amat berhutaang budi pada sepupunya itu.
Akan tetapi, hubungan cinta mereka tidak mendapat restu dari Baginda Diatas karena keluarga Mariamin adalah keluarga miskin dan bukan dari kalangan bangsawan. Suatu ketika, Aminu’ddin meninggalkan Sipirok dan pergi ke Deli(Medan) untuk mencari pekerjaan., setelah sebelumnya berjanji kepada Mariamin un tuk kawin pada saat dia mempunyai gaji dan mampu menghidupi calon istrinya.
Sepeninggal Aminu’ddin, Mariamin sering berkirim dan berbalas surat dengan Aminu’ddin. Ia selalu menolak lamaran pemuda yang datang untuk meminangnya, karena kesetiaannya pada Aminu’ddin seorang.
Setelah mendapat pekerjaan di Medan, Aminu’ddin berkirim surat kepada Mariamin untuk segara manyusulnya ke Medan dan menjadi istrinya. Kabar itu juga ia sampaikan kepada orang tuanya sendiri, dan menyuruh ayahnya untuk menjemput Mariamin kemudian membawanya ke Medan. Ibu Aminu’ddin sangat senang dan menyetujui rencana anaknya. Akan tetapi, Baginda Diatas tidak menyetujuinya. Oleh karena itu, sepakatlah mereka untuk pergi ke
dukun, dan menanyakan untung dan rezeky Aminu’ddin kelak apabila ia menikah dengan Mariamin. Adapun kabar yang diberikan oleh dukun tersebut menyatakan bahwa pernikahan Aminu’ddin dan Mariamin akan berakibat buruk bagi sang suami. Alangkah sedih sedih hati ibu Aminu’ddin, tetapi Baginda Diatas malah sebaliknya. Ia pun segera menjemput seorang puteri kepala kampung lain yang cantik dan kaya.
Kemudian tanpa sepengetahuan Aminu’ddin, Baginda Diatas membawa calon menantu pilihannya itu hendak dijodohkan dengan Aminu’ddin di Medan. Adapun Aminu’ddin amat kecewa setelah tahu bahwa gadis yang dibawa oleh ayahnya bukanlah Mariamin yang menjadi pujaan hatinya selama ini. Akan tetapi, ia tidak mapu untuk menolak keinginan ayahnya, serta adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat-nya. Aminu’ddin kemudian mengirim surat kepada Mariamin tentang perkawinannya yang tidak berdasarkan cinta. Dan kepada Mariamin, ia juga memohon maaf dan maminta Mariamin agar berlaku sabar dalam menerima cobaan.
Mariamin kemudian jatuh sakit karena cintanya terhalang. Suatu hari, Baginda Diatas datang ke rumah Marianin untuk meminta maaf dan menyesali segala perbuatannya setelah melihat sifat-sifat Mariamin yang baik.
Beberapa bulan kemudian, Mariamin dikawinkan dengan seorang kerani yang belum dikenalnya, bernama Kasibun. Ternyata kemudian ia ketahui bahwa suaminya itu baru saja menceraikan istrinya di Medan untuk mengawini Mariamin. Setelah menikah, Mariamin ikut tinggal di Medan bersama suaminya. Akan tetapi, Kasibun ternyata memiliki suatu penyakit. Mariamin pun enggan untuk melayani suaminya sebelum Kasibun berobat terlebih dahulu karena ia takut tertular.
Suatu ketika, Aminu’ddin mengunjungi Mariamin di rumahnya. Pertemuan itu membuat Mariamin pingsan sehingga menimbilkan kecurigaan dan rasa cemburu yang besar dalam diri Kasibun. Kasibun kemudian menyiksanya tanpa belas kasihan. Akibat siksaan itu, Mariamin mersasa tidak tahan hidup bersama suaminya. Ia kemudian melapor kepada polisi dan mengadukan perkaranya.
Kasibun pun kalah perkara. Dia diharuskan membayar denda sebesar dua puluh lima rupiah. Kasibun juga mengaku bersalah dan harus merelakan Mariamin bercerai darinya. Mariamin sangat sedih dan memutuskan untuk pulang ke rumah ibunyq di sipirok. Badannya amatv kurus dan sakit-sakitan, sehingga akhirnya ia meninggal dunia dengan amat sengsara
  


UNSUR-UNSUR YANG TERKANDUNG
DALAM NOVEL

A.Unsur Intrinsik
  1. Tema   
    Cinta yang terhalang adat
  2. Alur    
    Alur campuran
  3. Latar/setting      
No.
Waktu
Tempat
Suasana
1.
2.
3.
4.
Pagi ( hal : 20 )
Siang ( hal : 11)
Malam ( hal : 13 )
Tepi Sungai ( hal : 25 )
Pesanggrahan ( hal : 31 )
Sawah ( hal : 45 )
Rumah ( hal : 17 )
Menyedihkan ( hal : 51 )
Mengharukan ( hal : 71 )
Bahagia ( hal : 82 )
  4. Tokoh :
1.      Aminu’ddin           
2.      Marimin
3.      Nuria
4.      Sutanaringin   
5.      Baginda Diatas
6.      Ibunda Aminu’ddin
7.      Marah Sait          
8.      Kasibun   



5. Penokohan   
    Aminu’ddin                        : Baik hati, pengibah, senang membantu, rajin, pandai. ( hal : 68 )
    Marimin                   : Baik hati, pemaaf, rajin, setia, berbakti kepada orang tua, lemah                                           lembut. ( hal : 65 )
    Nuria                       : Sabar, bijaksana, sayang kepada keluarganya, baik, lemah lembut.                                         ( hal : 71 )
    Sutan Baringin        : Pemarah, penjudi, suka berbicara kasar, suka berperkara, tidak peduli.                                 ( hal : 88 )
    Baginda Diatas       : Sombong, mau menang sendiri, baik hati, gengsi. ( hal : 69 )
    Ibunda Aminu’ddin : Baik hati, sayang pada keluarganya, peduli pada penderitaan                                               saudaranya. ( hal : 81 )
      Marah Sait             : Jahat, suka menghasut orang lain. ( hal : 92 )
       Kasibun                : Pemarah, pencemburu, suka memaksakan kehendak, kasar.                                                  ( hal : 79 )
6.      Sudut pandang pengarang
Sudut pandang orang ketiga(pengamat/penonton)
7.      Amanat
·         Sebagai anak yang berbakti, kita hendaknya menuruti kemauan orang tua kita selama kemauan itu adalah wajar.
·         Hendaklah kita berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, karena penyesalan datangnya belakangan.
·         Bagaimana pun besarnya cobaan dan derita yang kita hadapi, janganlah kita lupa pada Allah SWT.
·         Janganlah mencintai seseorang hanya karena harta, derajat dan kedudukan yang dimilikinya.
·         Anak yang sudah cukup umur hendaklah disekolahkan atau diberi pendidikan.
·         Aturan-aturan dalam adat yang sudah tidak sesuai dengan adat yang dimiliki oleh masyarakat sekarang ini, baiknya dihilangkan daripada memberi kesulitan bagi seseorang. Seperti halnya dalam perjodohan.

B.Unsur Ekstrinsik
1.      Nilai moral
Aminu’ddin adalah seorang anak yang rajin dan penurut terhadap kemauan orang tuanya.
( hal : 90 )
Tali perkauman tidak akan putus meskipun itu terjalin antara si Kaya dan si Miskin.
( hal : 105 )
2.      Nilai agama
Nuria adalah seorang yang taat dan yakin kepada agama. ( hal : 121 )
Keyakinannya kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang member kekuatan baginya akan menerima nasibnya yang baik dan buruk. ( hal : 135 )
Kalau sekiranya ia tiada menaruh kepercayaan yang kuat kepada Allah SWT, tentulah ia akan melarat dan tentu iblis dapat mendayanya. ( hal : 110 )
3.      Nilai kebudayaan
Menurut kebiasaan orang Batak yang mendiami Tapanuli, ada dua nama yang dipakai oleh masing-masing pria. Satu nama diberikan sebelum kawin, dan satu nama setelah kawin yang disebut dengan gelar. ( hal : 145 )
Bagi orang Tapanuli, sebelum mereka menikahkan anaknya, terlebih dahulu mereka pergi ke dukun untuk menanyakan untung dan rugi daripada perkawinan anak mereka kelak. ( hal : 133 )
Dalam masyarakat Tapanuli, terdapat larangan untuk kawin dengan orang sesuku. Mereka tidak boleh ambil-mengambil dalam perkawinan, karena dilarang keras oleh adat. ( hal : 129 )
Apabila seorang laki-laki hendak menikahi seorang wanita, maka orang tuanya harus menjemput si gadis kemudian dibawa ke rumahnya. ( hal : 111 )
Menurut adat orang Batak, orang yang meminta maaf akan kesalahannya, harus harus membawa nasi ke rumah orang tempat ia meminta maaf itu, supaya langkahnya berat. Nasi itu biasanya dibungkus dengan daun pisang sehingga disebut dengan nasi bungkus. ( hal : 139 )
4.      Nilai sosial
Kalau kita dalam kekayaan, banyaklah kaum dan sahabat. Bila kita jatuh miskin, seorang pun tak ada lagi yang rapat, sedang kaum yang karib itu menjauhkan dirinya.( hal : 117 )
Untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya, Nuria mengumpulkan kaum kelargnya serta para tetua di kampungnya untuk menasihati suaminya. ( hal : 143 )
5.      Nilai pendidikan
Setelah Mariamin berumur tujuh tahun, ia pun dimasukkan orang tuanya ke sekolah.
( hal : 135 )
Meskipun ibu bapaknya orang kampung saja, tahu jugalah mereka itu, bahwa anak-anak perempuan pun harus juga disekolahkan. ( hal : 126 )
6.      Latar belakang pengarang
Merari Siregar (1896-1940), dilahirkan di Sipirok, Sumatera Utara, adalah seorang sastrawan Indonesia yang berasal dari Angkatan Balai Pustaka. Setelah meraih ijazah Handelscorrespondent Bond A di Jakarta, ia bekerja sebagai guru bantu di Medan, kemudian bekerja di Rumah Sakit Umum Jakarta, dan terakhir di Opium & Zoutregie Kalianget, Madura. Selain Azab dan Sengasara, yang merupakan tonggak kesusastraan Indonesia, ia juga menulis cerita si Jamin dan si Johan yang merupakan saduran karya Jus vVan Maurik (1918).
7.      Zaman ketika karya sastra Azab dan Sengsara dibuat.
Roman Azab dan sengsara disusun pada tahun 1920 dan cetakan pertama pada tahun 1927, dimana pada waktu itu bangsa Indonesia tengah berjuang untuk merebut kemerdekaannya dari tangan penjajahan Bangsa Jepang. Meskipun begitu, jalan cerita di dalamnya tidak menyinggung masalah peperangan yang terjadi pada waktu roman ini dibuat.
Akan tetapi, isinya lebih banyak membahas tentenag adat istiadat yang dimiliki oleh masyarakat Tapanuli, Sumatera Utara pada masa itu.
  


Pendahuluan

            Budi luhur dan ketabahan hati merupakan rangkaian sifat yang sangat terpuji. Apabila hal tersebut telah terpatri dalam diri kita, tentu takdir tuhan akan diterima dengan penuh keikhlasan.
            Demikian sifat gadis tapanuli yang mengaami bermacam-macam cobaan hidup, sebagai yang dilukiskan dalam buku ini. Kisah sedih semula dengan kematian ayahnya. Disaat itu kebahagiaannya, sebagai gadis remaja, terenggut secara tiba-tiba. Kemudian, disusul dengan kepergian sang kekasih ke kota Medan, hingga hancurlah segala cita-cita, yang telah terbina bersama sejak lama.
            Cobaan hidup, yang beruntun datang menimpa, membuat gadis itu dewasa dalam bertindak. Ia curahkan seluruh tenaga, membantu ibunya mencari nafkah unuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari. Didikan yang ditanamkan ibunya sejak ia masih keil, ternyata memegang peranan utama dalam hal ini. Ia mampu menyesuaikan diri dalam suasana dan keadaan di sekitarnya.
            Buku ini mengandung tuntunan yang baik dan berguna bagi remaja, yang biasanya gampang berputus asa jika tengah menghadapi suatu kegagalan. Karena pada umumnya mereka kurang menyadari bahwa belum berhasilnya sseorang dalam mencapi cita-cita itu sebenarnya bahkan batu ujian dan cambuk untuk lebih berhasil meraihnya.



Resensi
A.    Judul Resensi
Cinta yang terhalang adat

B.     Identitas Buku
 

Judul Resensi      :       Cinta Yang Terhalang Adat
Judul Buku          :       Azab dan Sengsara
Pengarang           :       Merari Siregar
Penerbit               :       Balai Pustaka, terbitan XVII, 2000
Tahun Terbit        :       1920
Tebal Buku          :       163 Halaman
Harga buku         :       Rp 37.000,00
Jumlah Halaman :        163



C.    Pendahuluan
            Budi luhur dan ketabahan hati merupakan rangkaian sifat yang sangat terpuji. Apabila hal tersebut telah terpatri dalam diri kita, tentu takdir tuhan akan diterima dengan penuh keikhlasan.
Demikian sifat gadis tapanuli yang mengaami bermacam-macam cobaan hidup, sebagai yang dilukiskan dalam buku ini. Kisah sedih semula dengan kematian ayahnya. Disaat itu kebahagiaannya, sebagai gadis remaja, terenggut secara tiba-tiba. Kemudian, disusul dengan kepergian sang kekasih ke kota Medan, hingga hancurlah segala cita-cita, yang telah terbina bersama sejak lama.
Cobaan hidup, yang beruntun datang menimpa, membuat gadis itu dewasa dalam bertindak. Ia curahkan seluruh tenaga, membantu ibunya mencari nafkah unuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari. Didikan yang ditanamkan ibunya sejak ia masih keil, ternyata memegang peranan utama dalam hal ini. Ia mampu menyesuaikan diri dalam suasana dan keadaan di sekitarnya.
Buku ini mengandung tuntunan yang baik dan berguna bagi remaja, yang biasanya gampang berputus asa jika tengah menghadapi suatu kegagalan. Karena pada umumnya mereka kurang menyadari bahwa belum berhasilnya sseorang dalam mencapi cita-cita itu sebenarnya bahkan batu ujian dan cambuk untuk lebih berhasil meraihnya. 


D.    Garis Besar 
Karena pergaulan mereka sejak kecil dan hubungan saudara sepupu, terjadilah hubungan cinta antara Mariamin dan Aminu’ddin. Ibu Mariamin menyetujui hubungan itu karena Aminu’ddin adalah seorang anak  yang baik budinya, lagi pula Nuria ingin agar puterinya dapat hidup berbahagia dan tidak selalu menderita oleh kemiskinan mereka.
Orang tua Aminu’ddin adalah seorang kepala kampong, bangsawan kaya dan disegani oleh bawahannya karena sifat-sifatnya yang mulia serta kerajinan kerjanya. Ayah Aminu’ddin bernama Baginda Diatas.Sifatnya munurun kepada anaknya. Sebaliknya, keluarga Mariamin adalah keluarga miskin yang disebabkan oleh tingkah laku ayahnya almarhum yang suka berjudi,pemarah,mau menang sendiri serta suka berbicara kasar. Karena sifat ayah Mariamin yang suka berperkara degan orang lain,akhirnya keluarga Mariamin jatuh miskin. Hingga akhir hayatnya, Tohir(Sutan Baringin) engalami nasib sengsara bersama istrinya, Nuria. Istri Baginda Diatas adalah adik kandung Sutan Baringin.
Hubungan cinta antara Mariamin  dan Aminu’ddin semakin bersemi ketika suatu hari Mariamin tergelincir dari sebuah jemabatan bambu. Dengan sigap, Aminu’ddin terjun ke sungai untuk menyelamatkan jiwa Mariamin. Mariamin terselamatkan, dan merasa amat berhutaang budi pada sepupunya itu.


E.     Kelebihan
  1. Sebagaimana pengertian dari novel adat, novel Azab dan Sengsara benar-benar menceritakan tentang adat istiadat yang dimiliki oleh masyarakat Tapanuli.
  2. Di dalamnya terkandung berbagai tuntunan yang baik bagi para remaja yang biasanya berputus asa jika tengah menghadapi suatu kegagalan.
  3. Pegarang menggunakan istilah-istilah sehari-hari yang dipakai oleh masyarakat Tapanuli, sehingga pembaca dapat mengetahui bahasa di daerah Tapanuli.
  4. Pengarang mencantumkan pengertian dari istilah yang digunakan, sehingga pembaca dapat lebih mengerti.
  5. Pengarang menggunakan ungkapan yang sesuai dengan isi cerita,seperti jantung hati, sehingga menambah nilai kesusastraan dalam cerita.
F.     Kekurangan
  1. Terdapat penulisan kata-kata yang tidak baku, misalnya:
            Merengkah      : merekah
            Laki                 : suami
            Bini                 : istri
            Pujuk               : buju
     2.     Dalam novel Azab dan Sengsara, terdapat gaya penceritaan yang terlalu bertele-tele,
           bahkan seringkali melenceng dari pokok pembahasan yang sedang diceritakan. 
     3.      Terdapat penulisan kalimat yang strukturnya tidak baku, 
            Seperti:Baiklah anakku dahulu makan
 
G.    Kesimpulan
Buku ini sangat menarik untuk dibaca karena didalamnya terdapat nilai-nilai adat yang ada di daerah Tapanuli, terdapat tuntunan yang baik untuk remaja, dan juga terdapat motivasi bagi remaja agar tidak putus asa daam menghadapi masalah. Jadi untuk remaja sebaiknya membaca novel ini karena bermanfaat bagi kita semua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar